Biografi Sudjana Kerton

Perkembangan seni rupa Indonesia tidak akan lepas dari nama Sudjana Kerton. Seorang tokoh pejuang yang juga seorang seniman kelahiran Bandung, Indonesia. Ia juga berhasil membuka mata dunia terhadap kesenian Indonesia. Sudjana Kerton lahir dari sebuah generasi yang sadar global, politik aktif dan sangat terlibat dengan pertanyaan estetika dan formal. Kerton diakui sebagai salah satu seniman Indonesia yang paling asli dan kontroversial.

“Dalam seni, setiap pokok yang saya lukis menjadi bagian dalam sanubari saya sejak jumpa pertama; demikianpun saya menjadi bagian dari apa yang saya lukis. Tiap karya seni merupakan hasil kemampuan saya untuk mengungkapkan dan mengkomunikaskan isi sanubari saya. Untuk meniupkan nafas kehidupan ke dalam pokok lukisan lewat kekuatan konstruktif yang saya genggam erat, suatu semangat hidup.” (Sudjana Kerton, pada pengantar katalog lukisannya: ‘Tanah Airku, Indonesia’, SANGGAR LUHUR Publication, 1990)

Sudjana Kerton mengawali kesenian secara otodidak dengan sesekali mengikuti kelas seni yang diajarkan Ries Mulder, Joos Pluimenz dan Henk de Vos di kota Bandung. Perjalan kesenian Kerton bisa dibagi dalam tiga periode yaitu masa sekitar Revolusi Kemerdekaan, masa di Eropa dan Amerika dan masa sekembalinya ke Indonesia.

Pada masa sekitar revolusi, Kerton seperti seniman dan pejuang lain yang berkobar semangat nasionalismenya. Tema-tema pejuang gerilya, dokumen peristiwa politik dan perang, maupun tema lingkungan dan kultural merupakan ungkapan dari panggilan jiwanya pada masa itu. Kerton mengekspresikan dalam gaya impresionisme dengan goresan dan warna-warna kuat untuk mencerminkan emosi dan semangat revolusi.

“Tiap seniman harus merasakan semangat tanggung jawab atas negrinya, suatu bangsa dalam tradisi yang tinggi, dan suatu keinginan untuk menciptakan karya baru untuk masyarakat baru. Tiap seniman harus diberi kesempatan mengembangkan dan mencipta dengan caranya dan harus dihormati sebagai suatu kekuatan yang penting dalam kehidupan rakyat.” (Sudjana Kerton dalam percakapannya dengan Endang K. Sobirin, Harian Merdeka, 1 Mei 1984)

Kegigihan serta keinginan yang sangat tinggi untuk terus berkembang, membawa Sudjana Kerton mendapatkan beasiswa Sticusa sehingga dapat belajar di Belanda dan Perancis. Tidak berhenti disitu Sudjana Kerton juga meneruskan untuk belajar dan menetap di Amerika lewat beasiswa Art Student’s League (ASL) di New York.

Di Eropa karya – karyanya menjadi Fauvis, seperti gaya lukisan yang banyak dianut pelukis -pelukis pada masa itu. Begitu juga sewaktu di Amerika ia terserap dalam kecenderungan abstrak ekspresionisme yang sedang berpengaruh kuat. Akan tetapi, karya – karyanya di Amerika justru banyak merefleksikan kerinduan lewat tema – tema kehidupan tanah airnya.

Dalam karya – karya itu, ia berusaha menggali psikologi manusia lewat deformasi yang purna. Dalam periode terakhir di Indonesia, ia banyak mengungkapkan realitas kehidupan rakyat. Namun demikian bukan hanya kemurungan yang dilihat, tetapi nilai-nilai humor dan rasa kemanusiaan lewat keunikan hidup juga terangkat.

“Daya merupakan bagian dari pokok yang saya lukis, ikut serta berbagi rasa, berbagi kebahagiaan, sama merasakan kesusahan, lapar ataupun haus, turut berhujan dalam tebalnya mendung atapun berpanas di bawah sinar mentari. Karena itu saya melukis dari ingatan supaya saya bisa mengungkapkan apa yang tersimpan dalam sanubari saya secara jelas, dan karena itu pula makasapuan garis-garis lukisan saya seringkali nampak menyimpang. Dalam menelaah lukisan-lukisan ini dan keadaan yang digambarkannya, anda bisa turut merasakan apa yang saya rasakan dalam lukisan, kreasi dan komunikasi tersebut.” (Sudjana Kerton, pada pengantar katalog lukisannya: ‘Tanah Airku, Indonesia’, SANGGAR LUHUR Publication, 1990)

Sudjana Kerton juga merupakan pelukis Indonesia pertama yang karyanya terpilih oleh UNICEF pada tahun 1964. Pada saat itu lukisannya dijadikan sebagai ilustrasi kartu Natal bersama pelukis terkenal dunia seperti Picasso, Henry Morre, Raoul Dufy dan lain-lain. Selain itu Sudjana Kerton juga pernah menerima penghargaan dari Gubernur Jawa Barat atas jasanya dalam Kegiatan sosial dan kemanusiaan PBB dan memeperkenalkan seni rupa Indonesia ke dunia Internasional.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *