Article

Affandi – Sun, Feet and Hands, 1979

Masterpiece Auction meluncurkan event Lelang Lukisan Online Masterpiece: Southeast Asian, Chinese, Modern & Contemporary Art, pada tanggal 16 September hingga 5 Oktober 2021.

Pada event lelang lukisan online ini Masterpiece Auction melelang karya-karya Maestro Indonesia dan Asia Tenggara seperti Affandi, Lee Man Fong, S. Sudjojono, Ahmad Sadali, Hendra Gunawan, Basoeki Abdullah, Srihadi Soedarsono, Chen Wen Hsi, Cheong Soo Pieng, dan masih banyak lagi.

Affandi – Perahu Jukung

Salah satu lukisan yang menarik untuk dimiliki adalah buatan Affandi dengan judul Perahu Jukung, 1975. Lukisan ini menggambarkan objek perahu jukung yang sedang bersandar di tepian pantai dan beberapa sosok Nelayan yang tengah sibuk dengan aktivitasnya, dengan latar belakang pemandangan laut yang luas dengan alunan deburan ombak.

S. Sudjojono – Tirta Samudra

Selanjutnya ada juga lukisan dari S. Sudjojono dengan judul Tirta Samudra, 1952. Lukisan ini menggambarkan alam bawah laut dengan biota lautnya yang sangat indah. Ciri khas goresan S. Sudjojono terasa amat kuat pada lukisan ini.

Hendra Gunawan – Gembala Kerbau

Lukisan yang tidak kalah menarik juga ada dari Hendra Gunawan dengan judul Gembala Kerbau, 1975. Lukisan ini memiliki ukuran 40 x 100 cm dengan media kanvas, dengan jenis naturalis khas Hendra Gunawan.

Hadir sejak 2003, Masterpiece Auction terus berkomitmen untuk mempertemukan kolektor dari mancanegara dengan karya-karya seni rupa yang terbaik dan otentik.

Untuk mengikuti lelang Masterpiece Online Auction juga sangatlah mudah, kolektor bisa mengunjungi website Auctions.masterpiece-auction.com

Selain itu bagi anda yang ingin melihat langsung lukisan yang diinginkan, anda bisa membuat janji dengan tim marketing Masterpiece Auction, dengan mengikuti protokol kesehatan.

Master Works on Paper merupakan judul lelang lukisan online yang diselenggarakan pada tanggal 1 – 8 September 2021 dengan total 54 lukisan kertas.

Masterpiece Auction merupakan platform lelang karya seni dan barang unik berharga. Manager Marketing Masterpiece Auction menyatakan saat ini lukisan berbahan dasar kertas masih sangat diminati karena harganya relatif murah.

Dengan harga yang relatif murah lukisan dengan media kertas saat ini bisa jadi salah satu koleksi yang diminati banyak kolektor karya seni seperti lukisan.

Selain itu lukisan dengan media kertas juga dinilai memiliki nilai seni yang tinggi, karena pelukis tidak boleh membuat kesalahan. Jika kesalahan terjadi ketika melukis diatas kertas, maka lukisan tersebut gagal dan tidak bisa ditimpa dengan cat lagi, dan harus melukis lagi dari awal.

Setiap lukisan yang dilelang sudah melewati kurator-kurator lukisan profesional. Bahkan beberapa lukisan memiliki sertifikat yang sudah terdaftar di galeri atau museum lukisan di Indonesia.

Pelukis yang dikenal diantaranya Adrien Jean Le Mayeur De Merpres, Hendra Gunawan, Affandi, Ahmad Sadali, Lee Man Fong, dan pelukis ternama lainnya.

Adrien Jean Le Mayeur De Merpres – Three Balinese Maidnes

Salah satu lukisan paling mahal di lelang kali ini dibuat oleh pelukis asal Belgia yaitu Adrien Jean Le Mayeur De Merpres yang berjudul Three Balinese Maidens.

Lukisan ini bergaya realis yang menceritakan budaya atau tradisi di Bali kuno, yang menggambarkan tiga orang wanita Bali yang sedang duduk santai. Ketiga Wanita tersebut bertelanjang dada, salah satu budaya Bali masa lalu Karena dibuat oleh pelukis legendaris dan lukisan yang sangat bagus.

Sebagai bentuk apresiasi terhadap pelukis,seniman dan seni rupa, Masterpiece Auction akan terus mengadakan lelang lukisan secara online dan terus berkomitmen untuk mempertemukan kolektor dengan karya-karya seni rupa yang terbaik dan otentik.

Industri kreatif termasuk industri seni rupa seperti lukisan terus mengikuti perkembangan jaman. Masterpiece Auction sebagai platform lelang lukisan dan karya seni rupa, ikut terus berpartisipasi membantu para seniman agar tetap bisa menjual karyanya.

Dengan mengikuti tren digitalisasi saat ini, Masterpiece Auction memiliki platform berupa aplikasi berbasis website yang bisa digunakan oleh para kolektor.Para kolektor bisa melihat karya yang sedang dilelang di Auctions.masterpiece-auction.com atau mendownload aplikasi Masterpiece Auction di Smartphone Android dan IOS.

Masterpiece Auction juga memiliki tim marketing yang siap membantu jika ada pertanyaan mengenai karya seni yang dilelang, maupun tata cara untuk mengikuti lelang online. 

Karya lukisan yang dilelang berasal dari pelukis legendaris yang namanya sudah mendunia. Sebut saja Hendra Gunawan, S. Sudjojono, Lee Man Fong, Ahmad Sadali, Basoeki Abdullah, Serihadi Soedarsono dan pelukis maestro lainnya.

Di awal september 2021 Masterpiece Auction juga telah selesai mengadakan lelang yang diselenggarakan selama satu minggu dengan judul Master Works on Paper. Lelang tersebut berhasil menjual lebih dari 30 karya lukisan diatas kertas dengan harga yang bervariasi.

Masterpiece Auction saat ini sedang mengadakan lelang lukisan online dengan judul MASTERPIECE : Southeast Asian, Chinese, Modern & Contemporary Art.

Lukisan merupakan sebuah karya seni yang dibuat oleh tangan manusia sesuai dengan imajinasi dari tangan para pelukis. Dengan teknik yang dimiliki dan ciri khas masing-masing pelukis, membuat nilai lukisan menjadi lebih tinggi dari yang diperkirakan.

Kini karya seni berupa lukisan dianggap sebagai alat investasi bagi beberapa investor dan kolektor karena kelangkaannya. Berbeda dengan investasi saham dan emas yang amat fluktuatif, nilai investasi lukisan bisa dikatakan setara dengan properti yang nilai investasinya lebih stabil.

Lukisan terbaik untuk investasi biasanya dilihat dari beberapa faktor seperti nama artis atau latar belakang pelukisnya, sejarah gambar lukisan dan media yang digunakan.

Lee Man Fong – Goldfish

Sebelumnya Masterpiece Auction pernah melelang lukisan secara online, salah satu lukisan yang dilelang adalah karya dari pelukis legendaris yaitu Lee Man Fong. Lukisan dengan judul Goldfish berukuran 76 cm x 108 cm dengan media Oil on board ditawar dengan harga SGD 85,000 atau sekitar 850 juta rupiah.

Affandi – Self Portrait

Ada juga lukisan dari Affandi berjudul Self Portrait, lukisan di atas media kanvas dengan ukuran 35 cm x 30 cm ditawar dengan harga SGD 60,000 atau sekitar 600 juta rupiah. Tidak menutup kemungkinan beberapa tahun ke depan harga lukisan ini bisa mencapai 1 miliar rupiah, karena lukisan ini hanya ada satu di dunia.

Ini adalah lukisan karya Affandi, seorang maestro seni rupa Indonesia yang namanya sudah mendunia. Lukisan Dengan Judul Matahari, Tangan, dan Kaki ini dibuat pada tahun 1979.

Lukisan ini memiliki goresan cat yang kuat dan sangat ekspresif yang menjadi karakteristik Affandi. Lukisan yang menggambarkan matahari, tangan dan kaki ini selalu disematkan oleh Affandi sebagai simbol di setiap karya yang menjadi favoritnya.

Bagi Affandi Matahari merupakan manifestasi dari semangat hidup, kaki merupakan ungkapan simbolik dari motivasi untuk terus melangkah maju dalam menjalani kehidupan. dan tangan menunjukkan sikap yang tegas dalam berkarya, dan merealisasi segala idenya

Lukisan ini punya warna yang kontras antara objek yang tegas dan latar belakang berwarna merah yang sangat berani, namun tetap terlihat harmonis dalam satu kesatuan.

Masih dengan karya dari Maestro Affandi yang selanjutnya kita bahas adalah lukisan berjudul Perahu Jukung yang dibuat pada tahun 1975. Berbeda dengan lukisan sebelumnya, lukisan satu ini menggambarkan objek yang lebih mudah dicerna oleh mata orang awam.

Lukisan ini menggambarkan objek perahu jukung yang sedang bersandar di tepian pantai dan beberapa sosok Nelayan yang tengah sibuk dengan aktivitasnya. Dengan latar belakang pemandangan laut yang luas dengan alunan deburan ombak.

Pada lukisan ini sangat terlihat kesederhanaan sang Maestro dengan memilih tema yang merakyat, serta menjunjung tinggi nilai budaya tradisional Bangsa Indonesia. Perahu Jukung sendiri sangat erat dengan kehidupan Nelayan tradisional Nusantara, dan unsur tersebut yang ditangkap oleh Affandi yang kemudian dituangkan diatas kanvasnya.

Dengan gaya ekspresionis yang sangat khas, Affandi berhasil menunjukkan semangat dari para Nelayan yang telah berjuang menghadapi ganasnya lautan untuk mendapatkan hasil yang maksimal.

Masterpiece Auction menggelar lelang lukisan karya maestro Asia Tenggara, dengan judul Southeast Asian, Chinese, Modern & Contemporary Art.

Srihadi Soedarsono merupakan pelukis ternama Indonesia yang namanya sudah sangat dikenal oleh kolektor, tidak hanya di Indonesia bahkan sampai ke mancanegara.

Salah satu karya yang menarik dari maestro Srihadi Soedarsono yang dilelang dengan judul Bedaya-Fight For Freedom Love and Peace, 2011.

Lukisan ini menggambarkan tiga wanita penari Bedaya. Bedaya adalah seni tari klasik dari Jawa, yang dikembangkan di kalangan keraton-keraton pewaris tahta kerajaan Mataram.

Tarian Bedaya dibawakan dengan gerakan gemulai dan meditatif karena Bedaya merupakan hasil dari inspirasi Raja mengenai suatu peristiwa penting.

Keindahan serta kemegahan itulah yang berhasil diungkapkan oleh Srihadi Soedarsono dalam karya ini. Sosok penari yang digambarkan dengan sangat cantik dan gerakan yang sangat luwes menggambarkan ketenangan batin, serta latar belakang kemerahan yang sangat kuat mempertegas jiwa semangat juang yang harus kita jaga dari cerita masa lampau.

Untuk memiliki lukisan karya karya Srihadi Soedarsono bisa langsung mengikuti lelang di auctions.masterpiece-auction.com.

Lelang online MASTERPIECE: Souheast Asian, Chinese, Modern & Contemporary Art yang dimulai dari tanggal 16 September 2021 telah berakhir pada tanggal 5 October 2021 lalu. Pada lelang tersebut terdapat berbagai karya dari para pelukis terkemuka Asia Tenggara, pelukis terkenal asal Indonesia seperti Affandi, S. Sudjojono, Basoeki Abdullah, Ahmad Sadali, dan lain sebagainya.

Lelang tersebut menghadirkan beberapa lukisan yang sangat langka, salah satunya adalah lukisan berjudul Abstract karya Srihadi Soedarsono. Karya pelukis Indonesia yang namanya sudah mendunia itu dibuat pada tahun 1957.

Lukisan Abstract menjadi rebutan dari banyak kolektor, hal itu memang sangat wajar mengingat lukisan tersebut memang sangat langka. Karena sangat sulit mendapatkan karya dari Srihadi dengan tahun setua itu dengan kondisi yang masih sangat baik.

Srihadi Soedarsono – Abstrak, 1957

Lukisan ini adalah salah satu karya lama dari Srihadi Soedarsono dengan perpaduan gaya kubisme yang didapatkannya saat menempuh pendidikan di Bandung dan abstrak figuratif geometris yang ia dapatkan ketika berada di Bali. Karya Srihadi seperti ini memang sangat sulit kita jumpai pada masa sekarang yang lebih mengarah ke ekpresionisme.

Karya ini tidak hanya menyajikan kemampuan teknik seni yang luar biasa dari seorang Maestro, namun juga memiliki nilai sejarah dari perjalanan kesenirupaan yang telah ditempuh oleh Srihadi Soedarsono. Sehingga tidak mengherankan karya yang satu ini pada akhirnya terjual dengan harga yang fantastis pada lelang Masterpiece Auction kemarin.

Masterpiece Auction merupakan platform lelang yang mempertemukan antara pemilik barang unik berharga dan kolektor yang mencari barang langka untuk dikoleksi. Barang yang bisa dilelang meliputi lukisan, patung, berlian, tas dan yang lainnya.

Metode Lelang

Lelang dilakukan secara online yang bisa dilihat dan diikuti dengan 2 cara, yaitu melalui website resmi di auctions.masterpiece-auction.com  atau melalui aplikasi Masterpiece Auction yang bisa kalian download dari Play Store  (Android) dan App Store  (iOS).

Layanan Pameran

Selama event lelang online masih berlangsung, para calon pembeli bisa melakukan preview untuk melihat langsung kondisi barang dengan mengunjungi galeri Masterpiece Auction di Jakarta. Calon pembeli juga bisa meminta laporan kondisi barang yang diinginkan berupa foto, video dan penjelasan dari tim marketing Masterpiece Auction.

Proses Lelang

Lelang online bersifat Open Public dan Timed Auction, dimana harga setiap barang yang sedang dilelang dapat terlihat dengan jelas. Setiap orang juga bisa ikut berpartisipasi dalam lelang online dengan cara melakukan pendaftaran dan melakukan bidding selama masih dalam periode lelang yang telah ditentukan.

Proses Pemenang Lelang

Ketika lelang online berakhir dan para peserta lelang telah dinyatakan memenangkan satu atau beberapa barang, maka para pemenang akan dihubungi oleh tim Masterpiece Auction, untuk melanjutkan ke proses pembayaran dan pengiriman barang yang telah dimenangkan.

Masterpiece Auction juga membuka kesempatan bagi para pemilik karya seni unik dan berharga yang ingin dilelang. Syarat & Ketentuan barang yang ingin dilelang akan diberikan oleh tim Marketing Masterpiece Auction.

Bagi para pemilik barang yang ingin melelangkan barangnya di Masterpiece Auction bisa langsung menghubungi contact person team Marketing Masterpiece Auction, atau bisa dengan mengirimkan email ke [email protected].

English Version>>

Sales Notice
Dear Valued customer,
Please not there are some changes for the following lot

Lot 4 Artist Wahdi Sumanta title “Danau, 1979” or “Lake, 1979”
Size: 95 x 145 cm
Description: Signed and dated, lower left: Wahdi S’79
Medium: Oil on canvas

Lot 5 Artist Mahyuddin S title “Ombak, 1979” or “Wave, 1979”
Size: 75 x 140 cm
Description: Signed and dated, lower left: Mahyuddin S’79
Medium: Oil on canvas

Lot 6 Artist Rusli title “Kapal-kapal, 1977” or “Boats, 1977”
Size: 31 x 77 cm
Description: Signed and dated, lower right: Rusli, 12-3-1997
Medium: Oil on canvas


Lot 7 Artist Popo Iskandar title “Black Cat, 1990”
Size: 40 x 47 cm
Description: Signed and dated, lower right: Popo’90
Medium: Oil on canvas

Lot 8 Artist Suwaji title “Borobudur”
Size: 150 x 240 cm
Description: Signed and dated, lower right: Suwaji, 2012
Medium: Oil on canvas

Lot 64 Hanafi – Abstract, 2000


Also note that
The for lot 64 work by Hanafi is change the picture is updated and the correct description Size: “120 x 140” and the estimate is 3,000-4,000

For bidding Treasures: Fine Art Auction Online, can you visit the website auctions.masterpiece-auction.com or download apps Masterpiece Auction at Google Playstore.

Budaya adalah suatu cara hidup yang berkembang dan dimiliki bersama oleh sekelompok orang serta diwariskan dari generasi ke generasi. Setiap negara di dunia ini memiliki kebudayaannya tersendiri yang pada akhirnya menjadi identitas dari negara-negara tersebut. Salah satunya adalah Bangsa Indonesia yang sangat kaya dengan nilai budayanya.

Indonesia merupakan negara kepulauan, yang di setiap pulau memiliki keberagaman budaya di daerahnya masing-masing. Keanekaragaman budaya ini lah yang membuat Indonesia menjadi sorotan dunia. Dengan banyak budaya artinya terdapat keaneka ragaman tradisi mulai dari tarian, makanan, cara beribadah, upacara tradisional, bahasa dan lain lain.

Rudy Pranadjaya – Garuda Legong Dancer

Kebudayaan dapat diwariskan dan disampaikan dengan banyak cara. Selain melalui jalur pendidikan formal, kebudayaan juga dapat diwariskan dari banyaknya buku-buku literatur yang menjelaskan tentang sejarah bangsa. Serta tari-tarian tradisional yang merepresentasikan peristiwa penting bersejarah dan karya seni yang mengandung unsur kebudayaan.

Berawal dari aspek itulah MASTERPIECE Auction sangat memperhatikan kelestarian budaya lokal Bangsa Indonesia. MASTERPIECE Auction dengan konsisten menyajikan karya-karya yang berkaitan dengan unsur kebudayaan. Bisa kita perhatikan dari setiap event lelang yang diselenggarakan oleh MASTERPIECE Auction, selalu ada karya-karya yang mengangkat unsur kebudayaan daerah yang sangat kuat.

Barli Sasmitawinata – Dancer, 1979

Unsur kebudayaan itu bisa terlihat dari karya-karya yang menggambarkan tentang kerakyatan yang kental dengan nuansa Indonesia. Peristiwa sejarah perjuangan bangsa, potret dari para tokoh bersejarah. Serta objek tarian daerah yang dengan gamblang merepresentasikan identitas daerah yang ada di Indonesia.

Karya-karya yang bernuansa kebudayaan lokal ini akan diperkenalkan oleh MASTERPIECE Auction. Kepada generasi muda dan semua kolektor karya seni yang tersebar di dunia. Dengan mengoleksi karya seni dari para maestro, bisa menjadi salah satu upaya untuk mengenal kebudayaan yang ada di Indonesia. Serta mengenang tradisi dari para leluhur kita.

Maka dari itu kita semua tetap harus menjaga nilai kebudayaan daerah untuk dapat kita wariskan kepada generasi penerus kita selanjutnya. Untuk memiliki lukisan budaya Indonesia langsung saja ikuti TREASURES Online Auction yang akan berakhir pada 27 Oktober 2021.

Siapa yang gak kenal dengan Ir. Soekarno, bapak pembangunan, Presiden pertama bapak dari bangsa, putra sang fajar, penyambung lidah rakyat, dan masih banyak julukan itu membuktikan bahwa Ir. Soekarno, sangat disegani tidak hanya oleh rakyat tapi oleh bangsa lain.

Ir. Soekarno & Perupa Indonesia

Tapi dari semua julukan di atas ada satu julukan yang tersembunyi yaitu sebagai “PATRON” seni rupa di Indonesia. Dimulai dari tertarik dengan kesenian dan kebudayaan Indonesia. Ir. Soekarno juga memiliki mata yang hebat untuk bisa menilai suatu karya seni yang memiliki potensi untuk bisa dikembangkan lebih jauh.

Patron di sini tidak hanya memberi dukungan dana tapi memberikan ilmu, arahan, pelatihan untuk mengangkat nama perupa Indonesia. Beberapa cara yang di gunakan antara lain.

1. Soekarno bekerjasama dengan pelukis asing yang ternama seperti Adrien Jean Le Mayeur De Merpres, untuk membimbing dan belajar dengan pelukis Indonesia. Tujuan nya untuk mendapatkan refrensi seni luar sehingga membuka wawasan seni rupa di Indonesia

2. Soekarno menggunakan seni rupa sebagai media diplomasi. Beliau merupakan presiden pertama yang menggunakan seni rupa sebagai salah satu alat diplomasi ketika di undang ke negeri lain, atau pemimpin manca negara datang di Indonesia. Seni rupa dari pelukis yang dia tunjuk diberikan sebagai hadiah sehingga karya perupa Indonesia secara langsung dipajang di mancanegara.

3. Pedekatan personal kepada pelukis dan pematung. Tercatat lebih dari 50 pelukis dan pematung yang dekat dengan Soekarno, kedekatan inilah yang membuat para seniman tertular semangat dan energi Soekarno sehingga mereka rajin mengembangkan karya mereka.

Tanpa intervensi Soekarno mungkin Indonesia akan kehilangan Land Mark seperti Patung Selamat Datang, patung pancoran dan Museum National di Jakarta. Dan jika tanpa intervensi Soekarno lukisan karya Maestro seperti Affandi, Hendra Gunawan, S. Sudjojono dan yang lainnya tidak akan bisa bersaing di mancanegara.

Beberapa karya seni yang dikoleksi oleh Presiden Soekarno bisa kalian temukan di Gallery Nasional Indonesia, karena karya tersebut merupakan harta Negara.

Jika itu masih belum cukup, kalian bisa lihat karya-karya yang dikoleksi oleh Bung Karno pada buku literatur Painting and Statues from the Collection of President Soekarno of The Republic of Indonesia Vol I-II yang dibuat oleh Dullah dan Painting and Statue from the collection of Pres. Soekarno Vol I-V yang dibuat oleh Lee Man Fong.

Kedua literature tersebut masih menjadi acuan kolektor dalam mengapresiasi karya seni hingga saat ini.

Ini adalah karya dari maestro Indonesia Raden Saleh dengan judul British Marine Vessel in Heavy Weather, tahun 1840. Lukisan ini menunjukan ke sempurnaan Raden Saleh dalam melukis aliran Romanticism.

Romanticism atau Romantisme dalam Bahasa Indonesia Adalah aliran yang populer di eropa barat pada abad 17. Banyak sekali yang mengira kata dasar aliran ini adalah romantis, tapi sebenarnya kata dasarnya diambil dari kata ROMAN. Roman adalah seni yang berkaitan dengan perang atau penjajahan pada masa romawi.

Tetapi masuk abad 18 seorang penyair menggunakan istilah romantisisme dalam puisinya. Untuk menunjukan pemikiran yang sangat expresif dan spontanitas, pengertian inilah yang menyebar luas di eropa.

Beberapa contoh pelukis romantisisme adalah Caspar David Friedrich, Eugene Delacroix, Gustave Courbet, Francisco Goya dan masih banyak lagi. Melihat beberapa contoh tadi lalu apa beda nya dengan luksian realist?

Perbedaan serta ciri khas dari romanticism adalah hyberbola dalam menunjukan perasaan sang pelukis. Hal tersebut dicapai melalui warna dan pengambaran latar belakang atau situasi yang seperti mimpi. Walau begitu tetap mengikuti aturan realita artinya semua ada di dunia nyata.

Mari kita ambil contoh real dari lukisan pertama yaitu “British Marine Vessel in Heavy Weather”. Melihat lukisan ini atmosfer adrenalin dan perjuangan langsung terasa.

Raden saleh mencapai itu dengan beberapa cara. Pertama beliau ingin kita fokus ke titik tengah lukisan, terdapat kapal dengan posisi yang sangat miring yang diterjang ombak tinggi.

Penegasan fokus ini dilukakan melaui warna dimana warna lebih terang digunakan di area kapal untuk memberikan efek spotlight,  ditambah Raden Saleh memposisikan kapal ini di tepat di tengah lukisan untuk mempertegas bahwa kapal ini sedang berada di tengah-tengah lautan.

Lalu padangan kita seakan diarahkan ke depannya, terdapat barrel kapal yang hanyut di lautan. Menandakan usaha dari crew untuk membuat kapal terapung. Tetapi awan sangat gelap di gambarkan di bagian depan kanan kapal menunjukan bahwa para crew harus tetap berjuang.

Namun di bagian kiri dimana kapal menuju terdapat langit biru terang yang terlihat dengan  kapal yang berhasil berlayar jauh di depan nya memberikan secerah harapan.

Lukisan karya Raden Saleh ini dilelang sebelumnya pernah dilelang di Amsterdam pada tahun 2013. Bagi yang ingin memilikinya kalian punya kesempatan untuk mengikuti lelang karya dari Raden Salen ini hanya di Masterpiece Auction.

Dilelang kali ini kita mendapat kesempatan yang langka, untuk melihat perjalanan seorang maestro yaitu Arie Smit, dengan delapan karya yang akan kita lelang.

Melalui teknik dan obyeknya kita akan melihat perjalanan dan pertumbuhan seni dari pelukis kelahiran Belanda, 15 April 1916 ini. Dimulai dari lukisan pertama Arie Smit sering melukis dengan gaya Impresionis.

Arie Smit – Di Kota Bandung, 1948

Lukisan pertama dibuat ketika ia berada di Bandung berjudul Di Kota Bandung yang diperkirakan dibuat tahun 1948.

Pada lukisan ini menggambarkan keasrian daerah Bandung yang masih didominasi oleh warna kehijauan di tengah pemukiman.

Nuansa yang menyejukkan dipertegas dengan background pegunungan yang mengelilingi kota Bandung.

Bisa dilihat secara gaya lukisan satu ini masih kental dengan gaya impresionis dimana tidak ada garis tegas hitam, gaya impresionis ini memang terkenal di eropa saat itu. 

Tetapi ia dapat dengan mahir mengkombinasi teknik asing dengan obyek di sekitarnya.

Arie Smit – Krisna, 1957

Setelah ia pindah ke Bali mulai terlihat perubahan gaya lukisannya. Seperti lukisan ini, yang dibuat pada periode 1950 sampai 1990.

Gaya impresionis yang dipertebal dengan penggunaan warna yang kontras dan lebih berani. Sudah mulai terlihat goresan pointilisme yang menjadi karakteristik Arie Smit yang kuat.

Arie Smit – Pantai Laut Di Lebih
Arie Smit – Balinese Girl Cave Heading To The Temple, 1992

Selanjutnya di periode 1990 sampai tahun 2000. Arie Smit masih terlihat sisi impresionismenya dengan warna yang tenang, namun kekuatan pointilisme yang digunakan semakin menonjol. Artinya nuansa garis dan titik semakin terlihat jelas sehingga objek pada lukisannya semakin dipertegas.

Arie Smit – Night Fall in Bali, 2000
Arie Smit – Temple in Hill Country, 2003
Arie Smit – Entrance Gate to Shrine, 2004

Terakhir lukisan yang dibuat pada tahun 2000 ke atas memiliki karakteristik yang berbeda. Secara teknik pointilisme semakin jelas, serta pemilihan warna yang semakin kuat dan berani.

Hal ini disebabkan karena kondisi kesehatan Arie Smit yang semakin menurun, mengingat usia yang sudah tidak muda lagi, menyebabkan kemampuan indra penglihatannya menurun. Sehingga ia lebih menggunakan warna yang ngejreng.

Arie Smit sendiri sudah meninggal pada tahun 2016 dan karyanya banyak menjadi buruan para kolektor. Sehingga karya lukisannya sangat sulit untuk didapatkan dan semakin langka karena para kolektor enggan menjualnya.

Jika kalian ingin memiliki karya lukisan dari Arie Smit yang ada di video ini, kalian bisa mengikuti lelang hanya  di Masterpiece Auction di bulan November 2021. Untuk lebih lengkapnya kalian bisa kunjungi website Masterpiece Auction yang ada di kolom deskripsi.

Perkembangan seni rupa Indonesia tidak akan lepas dari nama Sudjana Kerton. Seorang tokoh pejuang yang juga seorang seniman kelahiran Bandung, Indonesia. Ia juga berhasil membuka mata dunia terhadap kesenian Indonesia. Sudjana Kerton lahir dari sebuah generasi yang sadar global, politik aktif dan sangat terlibat dengan pertanyaan estetika dan formal. Kerton diakui sebagai salah satu seniman Indonesia yang paling asli dan kontroversial.

“Dalam seni, setiap pokok yang saya lukis menjadi bagian dalam sanubari saya sejak jumpa pertama; demikianpun saya menjadi bagian dari apa yang saya lukis. Tiap karya seni merupakan hasil kemampuan saya untuk mengungkapkan dan mengkomunikaskan isi sanubari saya. Untuk meniupkan nafas kehidupan ke dalam pokok lukisan lewat kekuatan konstruktif yang saya genggam erat, suatu semangat hidup.” (Sudjana Kerton, pada pengantar katalog lukisannya: ‘Tanah Airku, Indonesia’, SANGGAR LUHUR Publication, 1990)

Sudjana Kerton mengawali kesenian secara otodidak dengan sesekali mengikuti kelas seni yang diajarkan Ries Mulder, Joos Pluimenz dan Henk de Vos di kota Bandung. Perjalan kesenian Kerton bisa dibagi dalam tiga periode yaitu masa sekitar Revolusi Kemerdekaan, masa di Eropa dan Amerika dan masa sekembalinya ke Indonesia.

Pada masa sekitar revolusi, Kerton seperti seniman dan pejuang lain yang berkobar semangat nasionalismenya. Tema-tema pejuang gerilya, dokumen peristiwa politik dan perang, maupun tema lingkungan dan kultural merupakan ungkapan dari panggilan jiwanya pada masa itu. Kerton mengekspresikan dalam gaya impresionisme dengan goresan dan warna-warna kuat untuk mencerminkan emosi dan semangat revolusi.

“Tiap seniman harus merasakan semangat tanggung jawab atas negrinya, suatu bangsa dalam tradisi yang tinggi, dan suatu keinginan untuk menciptakan karya baru untuk masyarakat baru. Tiap seniman harus diberi kesempatan mengembangkan dan mencipta dengan caranya dan harus dihormati sebagai suatu kekuatan yang penting dalam kehidupan rakyat.” (Sudjana Kerton dalam percakapannya dengan Endang K. Sobirin, Harian Merdeka, 1 Mei 1984)

Kegigihan serta keinginan yang sangat tinggi untuk terus berkembang, membawa Sudjana Kerton mendapatkan beasiswa Sticusa sehingga dapat belajar di Belanda dan Perancis. Tidak berhenti disitu Sudjana Kerton juga meneruskan untuk belajar dan menetap di Amerika lewat beasiswa Art Student’s League (ASL) di New York.

Di Eropa karya – karyanya menjadi Fauvis, seperti gaya lukisan yang banyak dianut pelukis -pelukis pada masa itu. Begitu juga sewaktu di Amerika ia terserap dalam kecenderungan abstrak ekspresionisme yang sedang berpengaruh kuat. Akan tetapi, karya – karyanya di Amerika justru banyak merefleksikan kerinduan lewat tema – tema kehidupan tanah airnya.

Dalam karya – karya itu, ia berusaha menggali psikologi manusia lewat deformasi yang purna. Dalam periode terakhir di Indonesia, ia banyak mengungkapkan realitas kehidupan rakyat. Namun demikian bukan hanya kemurungan yang dilihat, tetapi nilai-nilai humor dan rasa kemanusiaan lewat keunikan hidup juga terangkat.

“Daya merupakan bagian dari pokok yang saya lukis, ikut serta berbagi rasa, berbagi kebahagiaan, sama merasakan kesusahan, lapar ataupun haus, turut berhujan dalam tebalnya mendung atapun berpanas di bawah sinar mentari. Karena itu saya melukis dari ingatan supaya saya bisa mengungkapkan apa yang tersimpan dalam sanubari saya secara jelas, dan karena itu pula makasapuan garis-garis lukisan saya seringkali nampak menyimpang. Dalam menelaah lukisan-lukisan ini dan keadaan yang digambarkannya, anda bisa turut merasakan apa yang saya rasakan dalam lukisan, kreasi dan komunikasi tersebut.” (Sudjana Kerton, pada pengantar katalog lukisannya: ‘Tanah Airku, Indonesia’, SANGGAR LUHUR Publication, 1990)

Sudjana Kerton juga merupakan pelukis Indonesia pertama yang karyanya terpilih oleh UNICEF pada tahun 1964. Pada saat itu lukisannya dijadikan sebagai ilustrasi kartu Natal bersama pelukis terkenal dunia seperti Picasso, Henry Morre, Raoul Dufy dan lain-lain. Selain itu Sudjana Kerton juga pernah menerima penghargaan dari Gubernur Jawa Barat atas jasanya dalam Kegiatan sosial dan kemanusiaan PBB dan memeperkenalkan seni rupa Indonesia ke dunia Internasional.

Banyak yang mengenal nama Henk Ngantung karena pernah menjabat sebagai Gubernur DKI Jakarta periode 1964-1965. Padahal jauh sebelum jabatan itu dinobatkan, ia sudah menjalani dunia seni rupa sebagai pelukis yang mengawali karirnya secara otodidak. Sosok Henk Ngantung kerap mendapat perhatian dari kritikus seni. Tidak hanya dari karya lukisannya, namun juga dari aspek sosial budaya serta aspek politis yang tumbuh dan berkembang dalam dirinya.

Memanah, 1943

Salah satu lukisan Iconik karya Henk Ngantung adalah lukisan berjudul “Memanah” yang dibuat pada tahun 1943. Lukisan tersebut pernah menjadi latar belakang Presiden Soekarno pada saat konferensi pers proklamasi kemerdekaan Republik Indonesia pada 17 Agustus 1945. Dikisahkan lukisan ini menggunakan wajah Marius Ramis Dajoh, seorang sastrawan ternama Indonesia dan dipadukan dengan model tangan dari Presiden Soekarno.

Lukisan ini merupakan salah satu dari sekian mahakarya lukisan yang terpampang di Istana Negara Republik Indonesia sampai saat ini.

Ia kerap dilibatkan oleh Soekarno sebagai pewarta dan membuat sketsa atau ilustrasi para tokoh serta situasi ketika menghadiri agenda perundingan. Goresan tangannya ini merupakan salah satu saksi sejarah perjuangan bangsa. Dari sketsa wajah Majapahit yang bisa di temukan di buku Pendidikan, patung Gajah Mada di halaman kompleks Mabes Polri. Tugu Pak Tani, Tugu Pembebasan Irian Barat di Lapangan Banteng dan Tugu Selamat Datang. Semua itu bersumber dari sketsa yang dibuat oleh Henk Ngantung.

Henk Ngantung – Landscape, 1978

Karya Henk Ngantung selanjutnya berjudul “Landscape” yang dibuat pada tahun 1978. Pada lukisan ini menggambarkan keindahan salah satu pesisir pantai Indonesia dengan pepohonan yang meneduhkan dari pancaran teriknya matahari. Pasir putih yang selaras dengan birunya lautan merupakan perpaduan keindahan yang memanjakan mata. Deburan ombak mengayun indah di tepian lautan yang tenang, memperlihatkan gradasi warna yang menenangkan hati dan pikiran. Lukisan ini dapat ditemukan pada salah satu lelang online MASTERPIECE Auction bulan Desember 2021.